DESAKU PART 1

 DESAKU 

(Part 1) 

Seorang anak kecil ingusan berambut hitam berkulit kusam, kurus, penakut   tumbuh dan dibesarkan dalam kehidupan yang serba kekurangan. Tnggal di sebuah desa kecil terpencil  berpenduduk kurang dari 100 keluarga  berlokasi di perbatasan Demak dan Kudus tepatnya, Ngemplik Wetan Karanganyar Demak. 

Saat itu di awal tahun 70 an, sejauh mata memandang hamparan sawah  luas seakan hangat dan damai  dipeluk  mesra gunung muria yang tampak mempesona. Suara nguuuek... terdengar jelas-berulang berumber dari gudel (anak kerbau) yang nangis tertinggal induknya menarik luku petani pembajak sawah.   Burung jalak sesekali hinggap di punggung kerbau jantan, kadang diujung tunjuk kerbau betina. Beberapa petani ndaut benih padi ditemani sejumlah burung blekok putih mengais mangsanya. 

Di temaram sore itu seusai angon kebo (gembala kerbau) kami, anak-anak kecil berlari bertelanjang dada  mengenakan celana kolor lusuh menuju blumbang (empang) di belakang rumah Bp Salamun, satu per satu menceburkan diri ke air yang sejuk dan bening di bawah pohon mindik (trembesi) yang besar. Aku bersama 6 orang anak bermain-main di air dengan gaya renang ndeso sembarang asal tidak tenggelam. 

Setelah dirasa puas kami mentas melalui ondo satu persatu. 

Inilah cara mandi ku... Sabun? Hmm no... kami tidak mengenal sabun mandi apalagi sabun cuci. 

Usai mandi kami bergegas pulang tanpa mengenakan alas kaki. 

Suasana desa jauh dari sentuhan kata modern seperti saat ini 

Kondisi rumah-rumah kami amat sederhana masih banyak rumah beratap welit (daun) beralaskan tanah dah berdinding gedek anyaman bambu yang masih bolong-bolong. Perabot rumah tangga terbuat dari tanah liat, seperti; gentong, kuali, kendi, wajan dan tungku dapur.  Barang-barang dapur diletakkan di ondang-ondang, maaf belum mengenal kitchen  set. 

Warga desa hidup sebagai petani tradisional panen sekali dalam setahun karena mengandalkan  tadah hujan. Hasil pertanian masih kurang untuk memenuhi kehidupan pokok yakni MAKAN sehari-hari. 

Tidak ada irigasi yang baik, belum kenal pupuk sehingga hasil panen selalu minim. 

Anehnya  padi hasil panen disimpan untuk cadangan makan selama setahun, barangkali takut kekurangan makanan. 

Padi disimpan di kamar kecil pojok rumah. Sebagian besar warga desa makan jagung atau gadum. 

Kami bahkan jarang makan nasi beras, telur apalagi daging yang memenuhi nustrisi yang memadahi, eh ingat MBG hehe... 

Hidup hanya untuk makan... tak aneh saat main di pelataran 9 dari 10 anak berawakan kurus, tidak sehat dan kurang gizi, yang gemuk (makmur) biasanya anak pak lurah, Pak bekel atau pak Bayan  yang kehidupannya berkecukupan serta setiap harinya makan nasi temen (nasi beras) 

Karena buruknya kondisi kesehatan, banyak anak tangannya seperti power rangers mekar karena penyakit kulit seperti cacar dan kudis.

Kami juga rentan diare karena kami minum air  disimpan di gentong tanpa melalui proses masak dulu. 

Di malam hari di dalam rumah tanpa sekat kamar, di samping kandang kerbau kami tidur di atas dipan besar  menampung satu keluarga besar, emak-bapak, adik-kakak serta kakek nenek. 

Sebelum tidur aku menggosok-nggosok telapak kaki agar tidak mengotori tikar tempat tidur. 

Nyaris tidak ada lampu penerangan, hanya lentera kecil dari minyak tanah yang dinyalakan sebentar sebelum tidur. 

Di bawah dipan biasanya diberi pedian (atau perapian) dari sekam yang asapnya bermanfaat sebagai pengusir nyamuk. Maklum belum kenal yang namanya obat nyamuk. Hanya Pak Lurah, Pak Kamituwo, dan Pak Bayan yang dinggap mampu yang biasanya mempunyai lampu petromak, punya sepeda onthel dan punya sumur tanah di depan rumah. 

Orang-orang awan kebanyakan tidak memiliki barang-barang seperti itu. 

Malam terasa kelam dan petang kalau bepergian di malam hari biasanya kita memakai obor blarak (daun kelapa kering) atau memakai lodong atau obor.

Namun di saat bulan purnama muncul di langit malam, dengan area halaman rumah yang rata-rata luas bayang pohonan jatuh di bawah sinar bulan menambah suasana desa makin mempesona, kami anak-anak sangat senang bergembira  main petak umpet, grobak sodor atau main cu.. (mengucapkan kata cu tanpa bernafas, kalau ambil nafas dinyatakan kalah) 

Sementara orang tua kami pada saling bercengkerama dan Pak Lik saya Soleman membuat perapian kecil dari ranting pepohonan, tanpa komando emakku masuk ke rumah mengambil beberapa onggok singkong yang diambil bapak dari sawah tadi sore. 

Suasana malam semakin syahdu saat mbah Karno berseru, " Ayo bocah-bocah reneo, iki telane wes mateng" (Ayo anak-anak ke sini ini telanya sudah matang). 

Serentak puluhan anak kecil, orang tua berkumpul mengilingi perapian sambil menikmati gurih dan lezatnya singkong bakar. Perapian mulai terdunduk  malu redup di bawah purnama alam, sambil menggelantungkan sarung aku beranjak menuju ke peraduan rumah joglo wetit milikku 

Di balik keterbatasan itu warga desa ini tumbuh dengan penuh semangat dan keceriaan. 

Di desa ini, kehidupan mungkin sederhana, namun penuh dengan kebersamaan dan keakraban. Di sinilah aku tumbuh, dalam dekapan alam yang indah dan kehidupan yang sederhana.

To be continued... 

Terima kasih

(Sudut kamar pojok desa Undaan Lor)

Komentar